Sabtu, 05 Januari 2013

pengertian film

 
FILM. Media sejenis pita plastik berlapis zat peka cahaya, yang disebut celluloid. Dalam bidang fotografi, film adalah media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya, fotografi bergeser ke penggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi, celluloid memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm, 35mm, dan 70mm. Ukuran yang biasa digunakan untuk produksi film layar lebar adalah 35mm. Perihal media penyimpan ini, kini, telah mengalami perkembangan pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan celluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari pengertian ini, maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan media celluloid sebagai penyimpannya. Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, pengertian film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa menggunakan celluloid (media film). Bahkan, saat ini, tidak sedikit film yang menggunakan media celluloid pada tahap pengambilan gambar, kemudian pada tahap pascaproduksi, gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital, dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan pada media celluloid, analog, maupun digital. Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu pada bahan ke bentuk karya seni audio-visual. Singkatnya, kini film diartikan sebagai suatu genre seni bercerita berbasis audio-visual, atau cerita yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak.
SEKILAS SEJARAH FILM
- Film berasal dari kata filmen, yang berarti lapisan tipis pada permukaan susu setelah dipanasi.
- Joseph Nicephore Niepce (Perancis) menemukan fotografi pada tahun 1826.
- Thomas Alva Edison (1847-1931), penemu lampu listrik dan fonograf, menciptakan kinetoscope pada tahun 1887. Bentuk alat ini menyerupai kotak berlobang untuk mengintip pertunjukan.
- 1894, di Broadway avenue, New York, pertunjukan kinetoscope untuk umum dimulai.
- Lumiere Bersaudara (Auguste & Louis Lumiere) dari Perancis mengembangkan kinestoscope menjadi cinematographe, yang dipatenkan Maret 1895. Alat ini mengkombinasikan kamera, alat memproses film dan proyektor.
- 28 Desember 1895, di sebuah kafe di Paris, Lumiere Bersaudara memproyeksikan karya pertamanya. Penonton ditarik bayaran. Dengan demikian bioskop pertama di dunia telah lahir.
- Tahun 1905, gedung-gedung bioskop (dinamakan Nicleodeon) bermunculan di New York.

PERKEMBANGAN FILM
- Karya film di masa-masa awal adalah hitam-putih dan bisu. Akhir 1920-an, mulai dikenal film bersuara, dan menyusul film warna pada 1930-an.
- Jika semula karya film belum dianggap sebagai karya seni, pada perkembangannya, kini, karya film sudah bisa disejajarkan dengan karya seni lainnya.
- Sineas di masa-masa awal adalah: Georges Melies (Perancis), Edwin S Potter dan DW Griffith (USA), RW Paul dan GW Smith (Inggris).
- Barisan sineas dunia pada masa-masa selanjutnya antara lain: Akira Kurosawa (Jepang), Satyajit Ray (India), Frederico Fellini (Italia), John Ford (Amerika), Ingmar Bergman (Swedia), Usmar Ismail (Indonesia).
Di negara-negara Barat, film cerita sudah mulai diproduksi antara tahun 1902-1903. The Life of an American Fireman (1903) adalah film cerita Amerika pertama yang dibuat oleh Edwin S. Porter (1869-1941). La Presa di Roma dibuat di Itali oleh Filateo Alberini pada tahun 1905. India membuat film cerita pertama Rajah Harishchandra pada tahun 1913. Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film cerita yang diproduksi pertama kali di Indonesia berjudul Lotoeng Kasaroeng, 1926. Kisah legenda ini difilmkan oleh G. Kroeger, seorang Indo Jerman. Lokasi syuting di Bandung.
Perintis industri film nasional adalah Usmar Ismail dan Jamaluddin Malik, tahun 1950-an. Mereka mulai aktif berproduksi dengan perusahaan film masing-masing, Studio Perfini dan Studio Persari. Namun, industri film nasional belum pernah sampai pada tingkat kemapanan. Berbagai kendala dihadapi, mulai dari masalah permodalan, teknologi, SDM, hingga soal distribusi. Produksi film Indonesia belum pernah mampu bersaing dengan produksi impor, khususnya film dari Amerika, Hongkong dan India.

Catatan:
Definisi istilah film tersebut dikutip dari Kamus Istilah Televisi dan Film. Kamus ini adalah karya langka. Sebagaimana kita ketahui, di Indonesia sudah berdiri lembaga penyiaran televisi profesional dan berbagai perguruan tinggi yang bergerak di bidang televisi dan film, tapi sangat sulit mencari buku mengenai istilah-istilah yang biasa digunakan dalam proses produksi televisi maupun film.
Nah, buku karya Ilham Zoebazary ini memuat sedikitnya 2000 entri yang berhubungan erat dengan dunia televisi dan film. Di dalamnya tercakup istilah-istilah yang biasa digunakan dalam proses produksi program televisi dan karya film, juga istilah-istilah teknis operasional di dalam studio televisi, studio editing, penulisan skenario, hingga istilah-istilah yang biasa digunakan para ahli dalam mengkaji televisi dan film. Sebagian besar entri, khususnya yang berhubungan dengan karya film, disertai contoh-contoh dengan menyebutkan judul film, nama sutradara serta tahun pembuatannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar